Senin, 22 Agustus 2011

Masjid Ground Zero dan Islamophobia

Minggu, 06 September 2009

Ahmadiyah Menyebarkan Islam Melalui Satelite

Di dasar mesjid terdapat saluran satelit yang terkenal di dunia internasional, mengudara sejak 1992 - Muslim Television Ahmadiyya (MTA). MTA hampir seluruhnya diselenggarakan oleh sukarelawan yang berasal dari komunitas Ahmadiyah


***

Di pedalaman selatan London, kubah hijau pucat dari sebuah mesjid nampak jelas, sekilas nampak tak kongruen, diatas bagian dari sebuah restoran tak bernama dan bergaya semi Tudor. Di dasar mesjid terdapat saluran satelit yang terkenal di dunia internasional, mengudara sejak 1992, namun bila anda bukan anggota gerakan Ahmadiyah- sebuah gerakan Islam yang kontroversial yang menggemakan perdamaian, toleransi dan percaya bahwa Al Masih telah datang di abad ke 19- maka mungkin anda belum pernah mendengar tentang saluran tersebut.


Muslim Television Ahmadiyya (MTA) hampir seluruhnya diselenggarakan oleh sukarelawan yang berasal dari komunitas Ahmadiyah. Produser acara Berita Tehmeena Luqman, salah satu dari sedikit staff yang diberi gaji dan satu-satunya pegawai penuh waktu, terlihat merasa sangat tidak enak harus menerima gaji. “Aku memiliki seorang anak laki-laki yang membutuhkan biaya, kalau tidak, aku tidak mau menerima gaji,” katanya. Sebelumnya ia bekerja di ABC, stasiun tv lokal Amerika, sehingga ia terbiasa dengan lingkungan kerja yang serba cepat di bagian berita. “Kita bukannya melakukan lima atau enam siaran berita dalam sehari, bukan tekanan kerja semacam itu – ini tekanan yang berbeda, karena kita melapor pada otoritas/atasan yang berbeda. Atasan tersebut adalah Mirza Masroor Ahmad, kalifah ke 5 Ahmadiyah, yang memonitor seluruh program stasiun tv tersebut.

MTA Salah satu tujuan MTA adalah untuk memperkuat kedudukan Ahmadiyah di negara-negara dimana ajaran tersebut mengalami tekanan – Pakistan, Bangladesh dan Indonesia, para pengikut Ahmadiyah telah dibunuh dengan motif agama- selain itu juga memberikan kesempatan kepada para pengikutnya dimanapun diseluruh dunia untuk berhubungan secara instan dengan khalifah. Mereka yang tidak memiliki akses sinyal satelit dapat mengikuti saluran MTA di YouTube. Program acara disiarkan dalam berbagai bahasa, dan seorang penerjemah yang terus menerus menyiarkan khutbah jumat khalifah, seringkali bertugas sebagai mubaligh- seperti Ferouz Alam yang bertugas di Bangladesh. Bagaimana ia mendapatkan calon pengikut yang potensial? “Saya secara langsung mengatakan bawa sekarang kita hidup di zaman Al Masih yang telah dijanjikan oleh mayoritas agama ” katanya, memancarkan ketenangan. “Pada saat bicara dengan umat Kristen, saya mengatakan tentang kedatangan kedua Al Masih, karena Ghulam Ahmad memiliki kualitas yang dimiliki oleh Yesus.”

Di bagian grafis, Ghalib Khan, sedang mengerjakan logo untuk Jalsa Salanah, konferensi tahunan Ahmadiyah yang dihadiri oleh sekitar 30 ribu delegasi. Ia baru saja lulus dari Brunei dengan gelar di bidang desain multimedia dan juga menjadi pembawa acara MTA Real Talk, yang membicarakan hal-hal yang menyangkut anak muda dan multi-kulturalisme, sebagai contoh, ia mengatakan, bagaimanakah Islam di representasikan di media. Aku berfikir, bagaimana kadang-kadang ia merasa terasing dari dua sisi, ia tidak termasuk aliran utama Muslim, bukan juga seorang ateis di tradisi Anglo. “Saya merasa ini adalah yang terbaik dari kedua hal tersebut,” katanya – doa dan struktur Islam yang dikombinasikan dengan kebebasan barat.

Acara Real Talk diadakan di tempat terbuka, tapi kebanyakan acara MTA lainnya direkam di studio Morden dengan background sebuah papan. Keseluruhan kegiatan memancarkan kesan amatir – kepala stasiun, Naseer Ahmad, adalah seorang pebisnis yang memasukan kegiatan mengelola MTA diantara berbagai kegiatannya termasuk bisnisnya di bidang properti dan furniture. “Saya tidak memiliki kualitas lebih dibanding yang lainnya,” katanya tanpa malu-malu. “Saya mempelajari ilmu pertelevisian sambil berjalan.” Kebanggaannya tampak jelas bukan hanya pada stasion TV nya tapi pada Ahmadiyah secara keseluruhan. “Kami sangat menghargai pendidikan, karenanya begitu banyak pengikut Ahmadi yang menjadi hakim dan jendral – di Pakistan, anda akan menemukan banyak Ahmadi pada posisi-posisi tinggi di masyarakat.

Naseer Ahmad percaya, Ahmadi dihujat karena interpretasi mereka mengenai jihad dengan cara damai, dan penolakannya terhadap kebiasaan membayar imam. “Kami menjunjung perdamaian, harmoni dan hidup berdampingan” katanya. “Kami tidak setuju pada peperangan, kekerasan dan bom bunuh diri. Kami dengan praktis dan eksplisit sangat mengutuk kekerasan. Pada pertanyaan bangsa barat,”Dimana Muslim yang moderat?”, kaum Ahmadi berharap dapat menjawab, “Kami disini!” namun masalahnya adalah kebanyakan orang bahkan tidak menganggap Ahmadi sebagai muslim sama sekali.

Alasan ini terpampang dengan penuh kebanggan di dinding ruang kerja Naseer Ahmad – sebuah foto Al Masih Ghulam Ahmad yang dibingkai, inti dari perbedaan teologis antara Ahmadiyah dengan Islam umumnya. Para Ahmadi percaya bahwa Ghulam Ahmad, seorang anak dokter di Punjabi yang lahir tahun 1823, adalah Al Masih yang dijanjikan yang akan menyelamatkan dunia dari dosa. Kebanyakan ulama Islam sangat menentang hal ini – sebuah email yang tajam dari juru bicara Lembaga Muslim di Inggris mengatakan dalam kata-kata yang sangat jelas, “Seluruh pesantren utama dari Suni dan Shia beranggapan bahwa Ahmadi adalah bukan muslim. Ini adalah posisi Ahmadiyah yang sangat umum diantara para pemuka agama Islam.”

Terus berupaya menggali tentang hubungan antara Ahmadiyah dengan Islam umumnya, aku menekan Naseer Ahmad pada masalah ini. “Apabila aku mengatakan pada seorang teman Muslim bahwa aku mengunjungi stasiun TV Ahmadi, kira-kira apa reaksi mereka?” “Tergantung perspektif mereka,” kata Ahmad. “Apabila mereka berasal dari Pakistan dan telah sering mendengar propaganda mengenai Ahmadiyah, maka mereka mungkin tidak suka. Tapi kebanyakan orang di negara ini berpikiran terbuka.” Ia kemudian membawaku berkeliling mesjid yang sekarang sudah kosong. Bangunan dengan karpet mewah, yang bisa menampung 10 ribu jamaah, dan biasanya penuh pada saat khutbah Jumat disiarkan, dimana kata-kata Masroor Ahmad ditayangkan ke seluruh pemirsa MTA diseluruh dunia. Aku bertanya apakah tata cara shalat disini berbeda dengan di mesjid non-Ahmadi. “Setiap detil adalah sama dalam segala hal,” kata Naseer Ahmad. “ Itulah sebabnya, tidak masuk akal kenapa orang mengatakan bahwa kita bukan Muslim.” (Damayanti Natalia)

Sumber: Guardian.co.uk
dikutip dari: Ahmadiyah.info


Senin, 21 Januari 2008

Tadzkirah Kitab Suci Ahmadiyah?

Penjelasan mengenai tadzkirah ini saya tulis untuk menyingkap tabir gelap dari fakta yang ada. Pertanyaan penting dalam pembahasan ini adalah Apa pendapat Ahmadiyah tentang tadzkirah itu sendiri? Hal ini penting karena faktanya, kendatipun satu fihak mengatakan tadzkirah adalah sebagai kitab suci Ahmadiyah tetapi dari fihak lain yaitu Ahmadiyah tidak lah mempunyai pendapat seperti yang dialamatkan oleh pihak pertama tadi. Kedua adalah Mengapa Isi dari Tadzkirah yang di klaim sebagai kumpulan wahyu itu mempunyai kesamaan redaksional kata dengan ayat-ayat yang terdapat dalam Alquran. Dari hal ini Ahmadiyah telah melakukan pembajakan Alquran, suatu istilah yang sekarang popular dialamatkan kepada Ahmadiyah bekaitan dengan tadzkirah ini. Permasalahan-permasalahan ini lah yang akan dibahas di dalam tulisan singkat saya ini. Semoga para pembaca dapat memahami niat baik kami untuk menjelaskan fakta sebenarnya, jangan sampai dengan isu-isu miring di luar akan menjadikan bahan stigma tehadap Ahmadiyah, dan yanglebih dihindari adalah jangan sanpai stigma yang terbentuk menjadi sesuatu yang namanya fitnah.



Sejarah Tadzkirah

Sebelumnya mari kita tempatkan dulu tadzkirah di posisi sebenarnya, supaya jangan ada anggapan yang merupakan kesimpulan sepihak, untuk itu kita patut mengetahui terlebih dahulu sejarah adanya buku yang namanya tadzkirah. Tadzkirah itu salah satu artinya adalah sebuah catatan, biografi, kenangan. Dari itu memang demikian adanya bahwa Tadzkirah itu berisikan kumpulan wahyu-wahyu, kasyaf-kasyaf serta mimpi yang diterima oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah dalam hidupnya selama lebih dari 30 tahun. Bahasa sederhananya adalah tadzkirah itu merupakan koleksi wahyu, kasyaf, mimpi yang berceceran di dalam tulisan-tulisan Pendiri jemaat Ahmadiyah dan dikumpulakan menjadi satu buku yang dinamakan tadzkirah.

Tadzkirah sendiri belum ada di zaman hazrat Mirza Ghulam Ahmad hidup, melainkan buku itu dibuat kemudian atas prakarsa Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad pada sekitar Tahun 1935, berselang 27 tahun setelah kewafatan Mirza Ghulam Ahmad. Beliau menginstruksikan kepada Nazarat ta’lif wa tashnif, sebuah biro penerangan dan penerbitan Jamaah Ahmadiyah pada waktu itu untuk menghinpun wahyu-wahyu, kasyaf-kasyaf dan mimpi-mimpi yang terdapat dalam berbagai macam terbitan (buku-buku, jurnal-jurnal, selebaran, majalah dan berbagai surat kabar) yang mana materi terbitan itu telah disebarkan lepada umum pada saat itu. Selain itu, dari catatan-catatan harian Mirza Ghulam Ahmad juga ditemukan keterangan mengenai pengalaman ruhani beliau dan juga adanya kesaksian para sahabat beliau, anggota keluarga, kerabat, dll dimana mereka diberitahu oleh Mirza Ghulam Ahmad mengenai wahyu, kasyaf yang beliau terima dari Allah. Untuk maksud itu dibentuklah sebuah panitia yang terdiri dari Mln Muhammad Ismail, Syekh Abdul Qadir dan Mlv Abdul Rasyid. Panitia tersebut menyusun buku tadkirah secara sistematis dan kronologis. Setelah pekerjaan itu selesai maka buku tersebut diberi nama tadzkirah.

Inilah sejarah singkat dari tadzkirah itu yang diharapkan bisa menjadi bahan acuan. Mungkin ada satu anggapan bahwa kalaupun kenyataannya seperti itu tetapi Ahmadiyahlah manjadikannya sebagai kitab suci, kalau seperti itu anggapannya maka itu hanyalah prasangka semata, karena Ahmadiyah tidak memiliki kitab suci kecuali Alquran Kariim yang diturunkan oleh Allah taala kepada wujud suci Rasulullah saw. Istilah “tadzkirah sebagai kitab suci" justru dipopulerkan oleh M. Amin Jamaluddin dalam buku karangannya yang berjudul Ahmadiyah dan Pembajakan Alquran. Jadi bukan Ahmadiyah dan memang demikian adanya bahwa Ahmadiyah tidak pernah dan takkan penah menganggap seperti itu, bahwa tadzkirah adalah kitab suci Ahmadiyah, titik! Dimanapun, didalam literature-literatur jemaat Ahmadiyah maupun dalam ceramah-ceramah atau dalam obrolan-obolan rignan sekalipun.

Yang menjadi keberatan dan mungkin ini juga yang dijadikan bahan kesimpulan yang mengatakan tadzkirah merupakan Kitab suci Ahmadiyah adalah mengapa di dalam tadzkirah terdapat wahyu-wahyu yang secara redakdional katanya sama dengan Alquran. Ya memang benar, tetapi itu bukanklah kehandak yang menerima. Tujuannya adalah untuk memberikan penekanan atas beberapa aspek konotasi dan penerapannya terhadap lingkungan –lingkungan dan keadaan-keadaan tertebtu.

Wahyu-wahyu uyang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad memang sebagian sama seperti yang kita temukan di dalam Alquran berupa pengulangan harfiah namun statusnya bukanlah wahyu-wahyu syariat. Ia mengandung makna-makna dan falsafah tertentu yang ingin diutarakan oleh Allah taala kepada hamba pilihannya sesuai dengan kehendak-Nya. Ini bukanlah pembajakan ayat-ayat suci Alquran, sedikitpun tidak mengurangi status Alquran sebagai kitab syariat yang paling sempurna. Justru hal itu menggambarkan kesempurnaannya. Salah satu sifat Allah taala adalah Mutakallim ( Maha berkata-kata) tidak ada tertera di dalam Alquran maupun ditempat lainnya bahwa setelah Alquran itu selesai diturunkan maka Allah tidak mau berkata-kata lagi dan akan membuang sifat-Nya yang satu itu untuk selamanya. Dia akan tetap berkata-kata, sedangkan manusia tidak bisa mendikte Allah Taala untuk tidak mengucapkan kembali apa-apa yang telah dan pernah Dia ucapkan sebelumnya.
Selain dari itu adanya pengulangan ini juga menunjukkan ketauhidan yang merupakan intisari daripada Islam, yakni Allah yang dahulu telah berkata-kata kepada Rasulullah saw serta yang telah menurunkan Alquran, Dia itu jugalah yang kini telah berkata-kata dengan hamba pilihan-Nya, bukan Tuhan yang lain.

Salahkah jika seseorang mendapatkan wahyu seperti itu? Tokoh sufi terkenal yang dijuluki
Asy-Syaikhul Akbar dan juga dijuluki Khatamul Aulia, yakni Imam Muhyiddin Ibnu Arobi menegaskan bahwa ayat-ayat suci Alquran dapat turun sebagai wahyu kepada para waliyullah dan hal itu tidak berarti mengurangi kehormatan Alquran atau membajak Alquran. Beliau menuliskan:

“Tanazzalul-quraa alaa quluubil awliyaa maa inqotho’a ma’a qawnihi mahfuuzan lahum walaakin lahum zuuqul-inzaal wahaaza liba’dhihim”
Artinya:”Turunnya Alquran ke dalam hati para wali tidaklah terputus. Bahkan pada mereka ia terpelihara dalam bentuk yang asli. Namun ia diturunkan kepada para wali adalah untuk memberikan cicipan rasa turunnya sebagian mereka”.(Futuhaat makiyyah Jil.2 h.258, bab:159)

Ibarat di dalam taman yang asri terdapat ribuan jenis pohon dengan beragam buah dan bunga, demikian pula halnya terbukti bahwa di dalam lembaran sejarah Islam terdapat wujud-wujud suci yang mendapat karunia berkomunikasi dengan Allah taala melalui wahyu, ilham, rukya dan kasyaf. Diantara wahyu-wahyu itu ada yang mirip kata-katanya dengan yang tercantum di dalam ayat-ayat suci Alquran. Bagi orang-orang yang tidak paham dan tidak pernah menghayati pengalaman rohani, sudah barang tentu akan menuduh para wujud suci itu sebagai pembajak Alquran pula, naudzubillah. Tetapi memang demikian faktanya bahwa bukan hanya Mirza Ghulam Ahmad saja yang mendapatkan wahyu Qurani malainkan banyak juga para tokoh-tokoh suci yang mengalami hal yang serupa. Berikut akan dituliskan mereka-mereka yang mendapatkan pengalaman rohani tersebut.

1. Imam Muhyiddin Ibnu Arabi menuliskan di dalam bukunya Futuhaat Makiyyah jilid 3, hal 367, bahwasannya beliau menerima wahyu qurani sebagai berikut:
Qul aamana billahi wama unzila ilayba wama unzila ilaa ibroohiim wa ismaa;iila wa ishaaqo, waya;quuba walasbaathi wama uutiya muusa wa’iisaa wama uutiyannabiyyuuna mirrobbihim, laa nufarriqu bayna ahadim minhum wanahnu lahu muslimuun”. (Wahyu ini adalah bentuk pengulangan dari surah Albaqarah:136)
2. Khawajah Miir Dard rahmatullah alaih di dalam kitab beliau yang berjudul Ilmul kitab hal. 64 menyatakan bahwa beliau menerima wahyu yang bebunyi sebagai berikut:
Waanzir asyiirotakal aqrobiin (terdapat dalam surah Asysyu’ara:214)
Kemudian: “Walaa tahzan ‘alaihim walaa takun fii dhoyyiiqim mimma yamkuruun” (terdapat dalam surah An-naml:70)
Demikian pula: “Wamaa anta bihaadil umyi ‘an dholaalatiihim” (Terdapat dalam Alquran Surah An-Naml:80)
2. Abdullah Ghaznawi, seorang tokoh waliyullah dan mulham yang masyhur di india, sebagaimana tercantum di dalam buku Itsbatul ilhaam wal bai’at karangan Mlv Abdul Jabbar Ghaznawi dan buku Swanah-e Umri Molwi Abdullah Ghaznawi oleh Mlv. Abdul Jabbar Ghaznawi dan Mlv Ghulam Rasul, cetakan Mathbu’ah Alquran, Amritsar, disebutkan bahwa Abdullah Ghaznawi menerima wahyu ssbb:

“Fashbir kamaa shobaro ‘ulul azmi minarrusul” (Terdapat dalam Alquran dalam Surah Al-Ahqaf:35)

kemudian :”Washbir nafsaka m’aalladziina yaduuna robbahum bil ghodaati wal asyiyyi” (Terdapat dalam Alquran surah Al-Kahfi:28)

Demikian pula:”Fashollili robbika wanhar” (Terdapat dalam, Alquran surah Al-Kautsar:3)
Demikain pula:“Walaa tuthi’ man aghfainaa qolbahuu ‘an Dzikrinaa wattaba’a hawaahu” (Terdapat dalam Alquran Surah Al-Kahfi:28)

3. Dalam futuhul Ghoib Syekh Abdul Qadir Jaelani bersabda: “Tughnaa watusyajja’ waturfa’ wa tukhootobu biannakal yauma ladainaa makiinun Amiin” bagian akhir ini pun terdapat di dalam ayat Alquran.
4. Kemudian dalam Al Matholib Jamaliyah, berkenaan dengan Imam Syafii Al Ustaad As sahaani menulis sebuah kitab bahwa Imam Syafii melihat Tuhan dalam mimpi dan berdiri dihadapan beliau. Maka, Tuhan memanggil beliau. “wahai Muhammad bin Idris, tegaklah diatas agama Muhammad dan janganlah sekali bergeser dari itu. Kalau tidak, kamu sendiri akan sesat dan akan menyesatkan orang-orang, Apakah kamu bukan imam orang-orang? Kamu janganlah sama sekali takut pada raja itu, bacalah ayat ini, (Q.S Yaasin:8 yang artinya:” Sesungguhnya Kami telah memadang belenggu di leher mereka lalu tangan mereka diangkat ke dagu, maka mereka itu tertengadah”) Imam Syafii berkata, “maka saya bangun dengan kudrat Tuhan ayat meluncur dari lidah saya.

Dari contoh wahyu-wahyu yang diterima oleh wujud suci tersebut diatas nampak jelas ada wahyu-wahyu uyang diterima oleh wujud-wujud suci tersebut di atas, nampak jelas ada wahyu-wahyu yang hanya barupa ayat-ayata Alquran ada yang bukan ayat Alquran dan ada yang merupalan campuran antara ayat-ayat Alquran dan yang bukan.

Syekh Muhyiddin Ibnu Arobi sendiri menerangkan lebih lanjut dalam buku Futuhatul Makiyyah juz II hal 236. “Semua macam wahyu Allah ini terdapat pada hamba-hamba Allah, yakni para wali. Ya, Wahyu yang khusus untuk para nabi dan wali-yang mereka tidak dapatkan-adalah wahyu syariat. Jadi wahyu yang di dalamnya terdapat hukum baru tidak akan turun. Jika ada nabi dalam umat ini yang dibangkitkan dan dia memperoleh wahyu maka tidak halangan dari segi akal dan nash, dengan syarat didalamnya tidak ada hal yang bertentangan dengan Alquran”

Abdul Wahhab Asysya’roni rh berkata dalam Al Yawaakitul Jawaahir juz II hal.84 sebagai berikut:
“Kita tidak mendapat mpemberiutahuan dari Tuhan bahwa sesudah RASululllah saw ada wahyu syariat yang akan turun tetapi untuk kita, wahyu dan ilham pasti ada”

Dalam hal ini kata-kata wahyu dan ilham digunakan supaya para pembaca memperhatikan dan sama sekali jangan lupa bahwa wahyu yang di dalamnya tidak ada perintah baru menentang perintah Alquran itulah yang bisa turun dan wahyu syariat ataupun wahyu kenabian yang membawa hukum baru tidak akan turun lagi.

‘Allamah Ullusi dalam tafsir beliau Ruhul Ma’ani berkata: “Kalian hendaknya mengetahui bahwa sebagian ulama mengingkari turunnya malaikat/wahyu pada hati selain nabi sebab mereka tidak merasakan lezatnya. Jelasnya bahwa malaikat itu turun tetapi dengan syariat nabi Kita saw.

Minggu, 13 Januari 2008

Kata Orang Aku "SESAT"

Kukatakan sesungguhnya, aku bukan orang sesat, walaupun orang berkata sebaliknya
kukatakan ini bukan perkataan bohong, ah orang-orang tak pula percaya
Tetapi bagaimana kalau ini bukan kebohongan??

Bermula dan berawal dari maraknya isu aliran sesat di bebagai media, terasa mengacung jari di dahiku, ‘Kamu orang Sesat!!” memang bukan peristiwa sebenarnya tetapi seperti itulah perasaanku adanya. Apa sebab? karena aku adalah termasuk diantara yang disesatkan, sekali lagi di-se-sat-kan. Oleh siapa, oleh orang-orang itu. Ya aku adalah seorang Ahmadiyah yang di cap sesat, non-Islam oleh para ulama, oleh khalayak semua bahkan sanak saudara dan teman-teman semua.

Tetapi mau diapakan saya? atau lebih luasnya kami. Diusir, intimidasi, atau-apa kata mereka-bahwa darah kami adalah halal, jarahlah, usirlah!!! Ah terserahlah… Aku teringat jawaban dan sekaligus suatu prinsip bagi para tukang sihir Firaun ketika berimannya mereka kepada Musa mendapat ancaman dari Firaun bahwa mereka akan dipenggal tangan, dan kaki secara bersilangan dan disalibkan diatas pohon Kurma (20:72), luar biasa.. tapi itu Cuma perbandingan. Tapi mereka menjawab lantang, pengallah apa yang bisa engkau, lakukanlah, sesungguhnya engkau hanya bisa memutuskan kehidupan jasmani ini saja.. sangat luar biasa. Ini cuma cerita Alquran tetapi itu pula-lah prinsip saya. Bahwa api yang membakar, ancaman yang membahana, tubuh ini-yang tak tau dari arah mana, kapan dan siapa-terus terongrong, bagai api yang dengan gagah berkibas-kibas ingin menghanguskan tubuh lemahku. Tetapi lakukanlah, bahwa hanya badan ini saja yang bisa terbakar hangus atau harta yang terbawa ludes tetapi tak ada yang dapat membakar yang ada di hati, tak kan. Insya Allah. Aku dan juga Ahmadi-ahmadi, terus dengan keyakinan yang membawa kecintaan kepada Allah dan kemabukan kepada Rasulullah tercinta. Tak akan lekang oleh pedang, tak luntur oleh waktu, tak pula patah oleh gelombang. Sebilah pedang dapat melukai daging tetapi dapatkah melukai udara? Setajam apapun pedang dan sekuat apaupun dengannya lengan mengayun.

"Kamu orang sesat!! tak pantas mengaku Islam, bikin agama baru!!!". Sekarang ku bertanya, Apa patokan seseorang itu sesat atau tidak? Dimana letak sesatnya? Adanya perbedaan penafsiran dapatkan di bilang sesat? Satu qunut satu tidak dapatkan dijatuhkan fatwa sesat? Kukatakan, perbedaan kami dan yang lain hanya sebatas penafsiran, terhadap apa, terhadap keimanan yang juga kalian imani yaitu tentang kedatangan Imam Mahdi, kami telah beriman sedangkan yang lain belum. tetapi kulihat sekarang kok kelihatannya banyak sekali perbedaannya, kitab orang ahmadi bukan Alquran melainkan Tadzkirah lah, syahadatnya beda lah, kaki tangan inggris lah, naik hajinya bukan ke Mekkah lah dan lain sebagainya yang seakan-akan ungkapan-ungkapan seperti itu merupakan upaya pelabelan untuk menambah bobot kesesatan Ahmadiyah. yasaya mengerti pelabelan mereka itu bukannya tanpa sumber yang asal omong. Tetapi kukatakan lagi itu dari satu sumber, masih ada sumber lagi yang terluput dari mereka, yaitu dari sumber yang terlabeli tersebut, bahwa bagaimana sebenarnya, benar atau tidak pelabelan seperti itu, ditanyakan, dibandingkan. Bukan dengan sikap yang karena sudah benci dari awalnya-setelah mendapat informasi miring-langsung diterimaYaitulah stigma, stigma itu lebih kepada gelap, meraba-raba, menduga-duga. Tetapi baiklah tulisan-tulisan saya ini adalah sebagai upaya kecil untuk menyibak kegelapan itu. Jangan sampai kalau hal itu manjadi fitnah diatas fitnah, maaf kalau saya katakan itu fitnah, setidaknya fitnah dari sudut pandang saya yang ternyata kenyataannya tidak seperti yang dituduhkan. Bikin agama baru"!bagaimana pula pemikiran seperti itu. Sekali lagi kukatakan bahwa aku tetaplah Islam, sekali Islam tetaplah Islam, sekali di hati tetaplah di hati, sebutlah kami orang yang mengaku Islam, Sebutlah kami Islam sempalan, sebutlah apapun yang membuat kalian puas hati.. kalau di hati kami tetaplah Islam. Aku berkata dalam keber-islamanku kukutipkan perkataan pendiri Jamaah Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad yang berbunyi:

Setalah asyik dan cinta kepada Tuhan
Aku ini mabuk cinta kepada Muhammad
Jika inilah yang disebut kufur
Maka demi Allah aku ini memang sangat kafir’’

Pada akhirnya semua orang memang akan mati dan menghadap sang Ilahi lalu mengapa pula gentar dan takut kepada orang-orang, apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang untuk memudaratkan kami? Kami hanya takut kepada Allah dan kepadanyalah kami Cinta.
Inilah akidah kami, jika jalan ini yang dikatakan sesat, kuulangi lagi bahwa akulah yang paling sesat dari jalan yang kutempuh itu. Sekedar kutambahkan kupersembahkan kutipan tentang klarifikasi bahwa Ahmadiyah dari antara 10 kriteria MUI tentang Aliran sesat maka Ahmadiyah tidak temasuk ke dalamnya.

Kukatakan dengan tulus Aku/Kami adalah orang Islam, kami mempercayai tiap suatu yang wajib dipercayai oleh seorang muslim sejati dan kamipun menolak tiap sesuatu yang wajib ditolak oleh seorang Islam sejati. Kalau kalian menyatakan ini adalah bualan semata, silahkan saja, bahwa ini adalah perkataan bohong silahkan juga, tetapi kukatakan jika ini bukan kebohongan, maka kalian bertanggung jawab dari segala sangkaan kalian. Karena kukatakan lagi siapakah dapat mengetahui apa yang terkandung di dalam hati orang lain?? Hanya Allah 'Aalimul-ghoiib saja yang tahu. Tetapi baiklah aku beri tahu.

Kami beriman kepada rukun iman begitu pula rukun Islam. Kuucapkan juga bahwa syahadat kami pun adalah Asyhaduannalaailaha illallah waasyahduanna Muhammadan 'abduhu warasuuluh. Kitab kami adalah Alquran tak ada tambahan tak pula pengurangan dari segala ayatnya, kalian mengatakan Tadkirah adalah kitab sucinya Ahmadiyah, dengan pastinya kukatakan lagi kami tak pernah menganggap seperti itu, tak lain tadzkirah adalah kitab/buku biasa dari artinya saja tadzkirah adalah catatan-catatan.. Kamipun berkiblat ke Mekkah al- Mukaromah. Mekah pula sebagai tanah suci dan tampat kami berhaji. Walaupun di beberapa daerah tak bisanya orang Ahmadi lantaran adanya pelarangan dari pihak-pihak tertentu yang mereka sendiri melarang orang Ahmadiyah berhaji.. Kukatakan juga kami bukanlah bentukan Inggris, janganlah mereka-reka, janganlah menduga-duga, hanya mengambil sumber dari satu sudut pandang atau dari satu fihak tidaklah bijaksana. Lantaran Inggris memberikan keamanan dalam berktifitas dalam agama tidaklah dapat dikatakan bahwa Ahmadiyah adalah bentukan inggris, toh bukan hanya ahmadiyah bahkan setiap agama-dengan syarat tidak mengancam satabilitas negara- mereka juga diberikan kebebasan yang sama. Atau barangkali adanya pujian Ghulam Ahmad terhadap pemerintahan inggris tidak pula berarti Ahmadiyah dan Inggris ada ulama-ulama sezaman pada waktu itu juga banyak yang mempunyai sikap seperti itu, bahkan kalau mau diperbandingkan pujian Ghulam Ahmad tidak seberapanya dibandingkan dengan ulama-ulama pada waktu itu. Kalau kami memang bentukan inggris mengapa pula kami dengan lantang menyuarakan bahwa Tuhan mereka, Yesus tak lain adalah seorang manusia biasa bahkan dengan lantang juga menyuarakan kepada mereka bahwa "Tuhan " mereka talah pula wafat sebagaimana manusia-manusia lainnya. Apa lagi yang ingin kukatakan, ah cukup saja dulu disini.
Jika semua perkataanku ini bohong, dibuat-buat, pura-pura, hanya sebagai tameng, maka apa lagi yang akan menyamai Allah.. wakafaa billaahi syahiida..wassalam.

Ahmadiyah Agama Baru

Sebut saja aku apa, agama X, agama Y atau agama Z.
Tapi kalau jati diriku dan yang kujalankan adalah Islam,
orang mau mengatakan apa?? Ahmadiyah tetaplah Islam.

Wacana sekarang yang mengemuka, yang dianggap sebagai solusi pencegahan konflik horizontal adalah, jadilah Ahmadiyah sebagai agama baru, maka kekerasan tak akan terjadi lagi. Adanya suatu fakta agama menjamin kebebasan beragama itu adalah benar, tetapi negara tidak mentolerir dalam hal penodaan agama, tak bebas menyimpang, apalagi merusak suatu agama. (Republika 8 JANUARI 2008)

Maka jika saja ahmadiyah membuat koridor baru dengan menbentuk suatu agama terpisah yang tidak mengatasnamakan agama Islam maka kebebasan beragama bagi mereka dapat berlaku. Demikian kira-kira pembacaan saya terhadap alur berpikir orang-orang dalam menyikapi Ahmadiyah. Apakah dengan itu masalah selesai?? Entah ..

Kalau saya membuat satu pengandaian maka saya andaikan dengan ungkapan “Berebut Rumah”, yaitu "Rumah Islam”. Pada dasarnya kita juga sama-sama "menumpang” di rumah itu, yang sebenarnya yang berhak menerima tidaknya seseorang dalam "rumah Itu" adalah sang "Pemilik dan Sang Pembuat Rumah" itu sendiri. Tetapi kenyataannya sekarang adalah semua mengaku seakan merekalah sang pemilik rumah itu sendiri, yang dengan lantang mengatakan kamu bukan penghuni rumah ini, jangan kau nodai rumah ini (walaupun mereka sendiri tak luput dari noda), kamu cari saja rumah sendiri, dan jangan bawa-bawa nama rumah seperti ini.. yaa maaf kalau pengandaian saya ini salah tetapi demikianlah kira-kira.

Saya hanya ingin meminda dari hal yang harus dipinda. Apa yang harus dipinda?? Pemikiran yang seperti saya andaikan tadi diatas. Baiklah akan saya sampaikan sebuah ayat suci Alquran yang berbunyi:

Sesunnguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak sedikitpun tangung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanya (terserah) kepada Allah, Kemudian Allah akan membertitahukan kepada mereka apa yang mereka perbuat”
(Q.S. Al- An’am: 159)

Menurut saya demikian, bahwa anggap saja Ahmadiyah memang sesat tetapi inilah jawaban Alquran dalam menyikapi kesesatan suatu golongan. Menurut saya-maaf kalau saya salah- dengan tegas Allah sudah mengatakan bahwa kita tidak sedikitpun bertanggung jawab terhadap aliran-aliran sesat, siapapun dan apapun golongannya, hanya kepada Allahlah urusan mereka. Tetapi kalaupun mau ditafsirkan lagi bahwa kitapun tidak serta merta hanya berpangku tangan maka keadaaannya pun adalah demikian, bahwa kita hanya sebatas melakukan langkah preventif dan langkah penyadaran dengan tetap memegang prinsip bahwa tetap-lah itu adalah keyakinan mereka, penafsiran mereka, yang bagaimanapun tidak bisa memaksakan keyakinan yang ada di dalam hati. Karena Alquran dan Nabi mencontohkan seperti demikian. Misalnya fatwa, dari sudut pandang objektif itu syah-syah saja, yang dianggap sebagai langkah pembentengan umat dari pengaruh golongan yang difatwa jangan sampai umat terpengaruh. Yaa itu syah-syah saja, toh fatwa itu tak lain cuma pendapat sementara orang yang dianggap lebih mengerti dan lebih mumpuni dalam ajaran Islam dan fatwapun tidak pula bisa dijadikan sebagai tiket menuju surga. Dalam batas ini kita tidak melangkahi wewenang Allah, tetapi jika sudah sampai kepada langkah kekerasan, intimidasi, mengeluarkan orang dan usaha membubarkan itu adalah langkah yang kebablasan, niat baik yang sudah tercampur dengan kebencian dan telah berusaha mengambil wewenang Allah. Setidaknya jika dikaitkan dengan ayat diatas.

Itu dari satu sisi, kemudian dari sisi lain alasan sebagian orang adalah bubarkan ahmadiyah atau bentuk agama baru, karena ahmadiyah lah yang menyebabkan umat Islam jadi brutal. Suatu langkah yang kesannya Ahmadiyahlah yang menjadi sebab utama, yang memulai. Ahmadiyah sebenarnya adalah objek tetapi sekarang dijadikan subjek, yang karenanyalah yang harus ditindak. Padahal siapa yang membuat kekerasan, mereka. Yang ditindak siapa? Ahmadiyah, yang menjadi objek kekerasan.

Kalau saya mengandaikan lagi adalah seperti masyarakat yang menjarah, mencuri atau merampas. Bisa saja berdalih ini gara-gara orang kaya yang bikin iri orang-orang maka jarahlah!! Langkah kita tentu bukan orang kaya itu yang ditindak, tetaplah yang menjarah yang ditindak, bukan orang kaya itu yang disuruh jangan kaya tetapi pencurilah yang harus disadarkan.. Kalau pencuri itu ada jiwa lkhlas, bahwa uang bukan segala-galanya maka dia tidak akan tertarik dengan mencuri. Biarlah orang kaya yang seperti itu, kalaupun ada azab maka dia sendiri yang akan merasakan tidak usahlah kita dengan niat memberi pelajaran tetapi tangan kita juga berlumuran noda.. Wassalam

Ahmadiyah Agama Baru (Part II)

Baiklah kami (Ahmadiyah) akan cari rumah baru dan akan kami bangun rumah baru, tetapi kalau ternyata Rumah itu sama dengan rumah kalian-karena memang itulah rumah kami, bahwa kami tidak mempunyai bahan selain bahan yang seperti kalian juga-
maka mau diberi nama apa rumah kami??

Kembali berbahas tentang Ahmadiyah sebagai agama baru. Kali ini apa masalah yang ditimbulkan, apa konsekuensi dari opsi itu, bukan dari sudut pandang hukum atau lainnya melainkan dari sudut pandang akal dan nurani. Baiklah dari opsi yang ditawarkan setidaknya muncullah pertanyaan seperti ini:

1. Kalau menurut pendapat mayoritas dewasa ini orang-orang Ahmadiyah adalah bukan Islam, maka kalau begitu apa kah agama-agama orang-orang Ahmadiyah?

2. Apakah Agama orang-orang Ahmadi juga akan ditentukan oleh mayoritas ataukah orang-orang Ahmadi-lah yang berhak menetapkan agama mereka sendiri?

3. Sekiranya agama orang Ahmadi harus ditentukan oleh mayoritas yang bukan Ahmadi maka apakah orang-orang Ahmadi tidak mempunyai hak menolak agama yang diusulkan itu dan tidak berhak beriman kepada akidah yang diyakini dengan segenap hati mereka?


Maka dari pertanyaan-pertanyan inilah dapat menjadi gambaran bagi kita meskipun seandainya orang banyak mempunyai hak menentukan akidah dan agama orang-orang Ahmadi namun mereka tak mempunyai hak untuk mengubah agama orang Ahmadi dengan mengusulkan agama lain yang bertentangan dengan keinginan orang ahmadi, kemudian mereka tidak pula berhak membuatkan sendiri agama bagi orang Ahmadiyah. dan mereka itu tidak berhak menyuruh orang Ahmadiyah beriman kepada suatu kitab tertentu atau menyuruh mengingkari suatu kitab tertentu.

Kemudian, jika orang Ahmadi yang diberi hak menjelaskan sendiri ciri agama mereka maka permasalahan yang juga muncul adalah, menurut ahmadiyah sendiri apa agama mereka itu? Ajaran apa saja yang mesti diamalkan oleh mereka dan hal-hal apakah yang harus dihindari mereka? Inilah permasalahannya yang kita tidak bisa memaksakan karena orang ahmadiyah sendiri menjalankan apa yang dijalankan oleh orang Islam semua.

Disini saya kutipkan perkataan pendiri Ahmadiyah sendiri lewat bukunya Nurul Haq , Jilid I halaman 5:

”Kami adalah orang Islam. Kami beriman kepada Tuhan yang Maha Esa dan tidak berserikat serta mengakui dan mengimani kalimah laa ilaaha illallahu dan mempercayai kitab Allah, Alquran karim dan Rasul-Nya saw. yang adalah khatamul Anbiya. Kamipun iman kepada para malaikat, hari kebangkaitan neraka dan surga. Kami mendirikan shalat dan mengerjakan puasa dan kami mengakui kiblat. Dan apapun yang diharamkan oleh Tuhan dan Rasul-Nya kamipun menganggapnya haram dan apapun yang dihalalkan maka kamipun menetapkannya halal. Dan kamipun tak menambah sesuatu dalam syariat dan tak pula menguranginya. Tak sezarahpun mengurangi atau menambahnya. Dan apapun yang sampai kepada kami dari Rasulullah saw kami menerimanya dengan baik walaupun kami memahaminya atau tak dapat memahami rahasianya atupun tak dapat mencapai hakikatnya. Dan dengan karunia Allah taala kami adalah orang-orang mukmin Muwahhid, yakni yang percaya kepada tauhid Ilahi”

jadi kesimpulannya adalah….silahkan simpulkan sendiri.
Jadi dari keterangan ini kukatakan, inilah Ahmadiyah, dan kukatakan lagi ini bukanlah perkataan bohong, bukan pula usaha mimesis. Inilah Islam Ahmadiyah. Silahkan mengatakan kami agama X,Y atau Z, atau apa saja namun tetaplah tidak akan mengubah agama orang ahmadiyah, Islam.

Kalau orang-orang Ahmadiyah dengan tulus ikhlas beramal sesuai dengan ajaran yang mereka percayai sebagai Islam tetapi menurut orang lain ajaran itu bukan Islam melainkan agama lain, maka silahkan juga menamakannya apa yang mereka inginkan, tetap tak seorangpun di dunia berhak menghalangi pengikut agama itu untuk mengamalkan ajaran tersebut.

Satu sisi lagi, dari pemikiran sederhana saya yang lemah ini, kesan yang saya timbulkan adalah, LUCU. Ahmadiyah telah memiliki rumah baru, mari kita lihat ke dalamnya, ibadahnya sama, shalatnya, puasanya, syahadat juga sama begitupun yang lainnya. Saat jumatan begitu pula kami, saat lebaran begitu pula adanya, Rasulullah dan Allah itulah pula yang menjadi sanjungan. Terus mengapa harus mendirikan agama baru?? Entahlah…

Solusinya biarlah kami menjalankan beribadah dengan aman sebagaimana juga kalian, jika punya sikap seperti yang pada Surah Al An'am tadi maka terciptalah kedamaian. Toh Alah lah nanti yang lebih mengetahui dan masing-masing kitalah yang menanggung konsekuensi segala keyakinan kita. Sebagaimana pengikut firaun yang telah beriman tetapi masih menyembunyikan keimanannya dari Firaun berkata: "Seandainya Musa berdusta mengapa kamu menunjukkan kehebatan mu padahal kedustaannya itu akan menghancurkan dia ataudia sendiri yang akan menanggungnya sebaliknya jika ia benar maka sebagian dari yang diancamkan akan menimpamu (Al-mu'min: 28)

Ahmadiyah Islam Sejati

Berikut ini akan saya tampilkan tulisan yang menegaskan bahwa Ahmadiyah tidak termasuk aliran sesat. Tulisan ini merupakan tanggapan Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia terhadap kriteria aliran sesat yang dikeluarkan oleh MUI pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 4-6 November 2007 di Hotel Sari Pan Pacifik. Berikut tanggapannya:


1. Mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam,

Tanggapan: Ahmadiyah berpegang teguh kepada rukun Iman dan rukun Islam sebagaimana pernyataan pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad,
Sesungguhnya kami orang-orang Islam yang beriman kepada Allah yang Tunggal, yang segala sesuatu bergantung pada-Nya, yang MahaEsa, dengan pengakuan ‘tidak ada Tuhan kecuali Dia’; kami beriman kepada kitabullah Al Qur’an dan Rasul-Nya, paduka kita Muhammad Khataamun Nabiyyin; kami beriman kepada Malaikat, Hari Kebangkitan, Surga dan Neraka . . . dan kami menerima setiap yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik kami mengerti maupun kami tidak mengerti rahasianya serta kami tidak mengerti hakikatnya; dan berkat karunia Allah, aku termasuk orang-orang mukmin yang meng-esakan Tuhan dan berserah diri.” (Nurul Haq, Juz I, halaman 5)

2. Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al Qur’an dan As Sunnah),

Tanggapan: Ahmadiyah tidak meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Pendiri Ahmadiyah menyatakan dengan tegas:
“Tidak masuk kedalam Jemaat kami kecuali orang yang telah masuk ke dalam Islam dan mengikuti Kitab Allah dan Sunnah-sunnah pemimpin kita sebaik-baik manusia (Muhammad Rasulullah SAW) dan beriman kepada Allah, Rasul-Nya yang Maha Mulia yang Maha Pengasih dan beriman kepada khasyr dan nasyr, surga dan neraka jahiim; dan berjanji dan berikrar bahwa ia tidak akan memilih agama selain agama Islam dan akan mati diatas agama ini, agama fitrah, dengan berpegang teguh kepada kitab Allah yang Maha Tahu; dan mengamalkan setiap yang telah ditetapkan dari Sunnah, Al Qur’an dan Ijma’ para sahabat yang mulia; siapa yang mengabaikan tiga perkara ini sungguh ia telah membiarkan jiwanya dalam api neraka.
(Lihat buku Ruhani Khazain jilid XIX, hal.315 dan Mawahibur-Rahman, hal 96).

3. Meyakini turunnya wahyu sesudah Al Qur’an,

Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al Qur’an itu wahyu Allah yang mengandung syariat yang lengkap dan terakhir, karena itu tidak akan turun lagi wahyu sesudah Nabi Muhammad SAW yang mengandung syariat yang mengganti atau merubah syariat Al Qur’an.
Keyakinan Ahmadiyah tentang wahyu didasarkan pada surah Asy Syura, 42:52 yang artinya,
“Dan tidaklah mungkin bagi manusia agar Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu langsung atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang Rasul guna mewahyukan apa yang dikehendaki-Nya dengan izin-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Luhur, Maha Bijaksana.”
Kalimat ‘yukallimahullahu’ dalam ayat ini berbentuk fi’il mudhori yang menunjukkan waktu sekarang, dan akan datang. Ini menunjukkan bahwa adanya wahyu adalah kekal sebagaimana kekalnya Dzat Allah Taala sebab ia terbit dari sifat mutakallim Allah Yang Maha Kekal. Sedangkan wahyu yang diturunkan hanya untuk menjelaskan dan menjunjung tinggi Al Qur’an akan tetap ada dan tetap diperlukan sampai kiamat dan wahyu-wahyu semacam itu pernah diterima para Sahabat Nabi Muhammad SAW. Sesudah Rasulullah Muhammad SAW wafat, para sahabat yang akan memandikan jenazah nabi Muhammad SAW menerima wahyu tentang bagaimana hendaknya jenazah Rasulullah Muhammad SAW , “Mandikanlah Nabi SAW sedang padanya ada pakaiannya.” (Hadits Al Baihaqi dari Siti Aisyah r.a. dalam Tarikhul Kamil jil. 2 halaman 16 dan Misykatus Syarif, jil. 3 babul Kiromat hal. 196-197). Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Muhyiddin Ibnu Arabi dan lain-lain, juga pernah menerima wahyu jenis ini. (tentang hal ini dapat dibaca pada buku Muzhatul-Majalis, jil. 1 hal. 107, babul-khilmi washfchi; Al Mathalibul Jamaliyah, Cetakan Mesir tahun 1344 halaman 23; dan Al futuhatul Makiyyah, jilid III, halaman 35).

Pendapat yang mengatakan bahwa sama sekali tidak ada wahyu dalam bentuk apapun setelah kewafatan Rasulullah Muhammad SAW sama saja dengan mengatakan bahwa sifat mutakallim Allah Taala telah terhenti, dengan kata lain Allah telah mengalami pengurangan dalam sifat-sifat-Nya. Bila salah satu sifatnya dinyatakan telah tidak berlaku lagi maka tidak tertutup kemungkinan bagi sifat-sifat-Nya yang lain akan berkurang dan ini akhirnya merusak keimanan seseorang kepada Allah.

4. Mengingkari autentisitas dan kebenaran Al Qur’an,
Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al Qur’an yang kita warisi sekarang ini asli sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dulu, dan Ahmadiyah menerimanya secara utuh. Pendiri Ahmadiyah menyatakan: “Siapa yang menambah atau menguranginya maka mereka itu tergolong setan.” (lihat, Mawahibur Rahman, halaman 285) ”…. Kami tidak menambah sesuatu dan tidak pula mengurangi sesuatu dari Al Qur’an dan diatasnya kami hidup dan mati. Siapa yang menambah pada syariat Al Qur’an ini seberat dzarroh (atom) atau menguranginya atau menolak akidah ijma’iyah. Maka baginya kutukan Allah, malaikat dan manusia semuanya.” (Anjami Atham, halaman 144) ; “…Al Qur’an itu sesudah Rasulullah SAW (wafat) terpelihara dari perubahan orang-orang yang merubah dan kesalahan dari orang-orang yang menyalahkan; dan Al Qur’an itu tidak akan dimanshukhkan dan tidak akan bertambah dan berkurang sesudah Rasulullah (wafat).”
(lihat, Ainah Kamalati Islam, halaman 21).

5. Menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir,
Tanggapan: Ahmadiyah menafsirkan Al Qur’an berdasarkan 7 kaidah penafsiran yang satu dengan lainnya tidak boleh saling bertentangan, yaitu:
(A) Dengan Al Qur’an sendiri. Tafsir suatu ayat tidak boleh bertentangan dengan ayat yang lain,
(B) Dengan tafsir Rasulullah SAW. Jika satu arti dari ayat Al Quran terbukti telah diartikan oleh Rasulullah SAW maka kewajiban seluruh orang Islam untuk menerima itu tanpa keraguan dan keseganan sedikitpun,
(C) Dengan tafsir para Sahabat Rasulullah SAW. Sebab mereka adalah pewaris utama dan pertama dari nur ilmu-ilmu nubuwat Rasulullah SAW,
(D) Dengan merenungkan isi Al Quran dengan jiwa yang disucikan,
(E) Dengan Bahasa Arab,
(F). Dengan hukum Alam, sebab tidak ada pertentangan antara tatanan rohani dengan tatanan alam semesta,
(G) Dengan tafsir yang diperoleh melalui bimbingan langsung dari Allah seperti wahyu, mimpi, dan kasyaf. (disarikan dari buku ‘Barakatud do’a’, karya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad).

6. Mengingkari kedudukan hadist Nabi sebagai sumber ajaran Islam,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengingkari kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran Islam. Pendiri Jemaat Ahmadiyah menegaskan, “Sarana petunjuk ketiga adalah Hadits, sebab banyak sekali soal-soal yang berhubungan dengan sejarah Islam, budi pekerti, fiqh dengan jelas dibentangkan di dalamnya. Faedah besar daripada Hadits selain itu ialah, Hadits merupakan khadim (abdi) Al Qur’an.”
(Bahtera Nuh, bahasa Indonesia, edisi kelima, halaman 87-88)

7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan Nabi dan Rasul,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah menghina, melecehkan atau merendahkan Nabi dan Rasul. Ahmadiyah menghormati dan mengimani semua Nabi dan Rasul Allah sebagaimana Al Qur’an mengajarkan kepada kaum Muslim, “Kami tidak membeda-bedakan di antara seorangpun dari Rasul-Rasul-Nya yang satu terhadap yang lain.” (Q.S Al Baqarah: 286).

8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir yang membawa syari’at. Nabi Muhammad SAW sendiri memberitakan bahwa di akhir zaman akan turun Isa Ibnu Maryam yang kedudukannya adalah Nabi, (Hadits Bukhari, Kitabul Anbiya’, bab Nuzul Isa Ibnu Maryam), namun tidak membawa syari’at baru melainkan menegakkan syari’at Islam.

9. Mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat, bahkan Ahmadiyah berupaya melaksanakan semua sunnah Rasulullah SAW dan Ijma’ sahabatnya Yang Mulia. Pendiri Ahmadiyah menyatakan : “Kami berlepas diri dari semua kenyataan yang tidak disaksikan syariat Islam.”
(Tuhfah Baghdad, halaman 35)

10. Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengafirkan seorangpun yang mengaku Islam atau mengucapkan dua Kalimah Syahadah.
Perlu diingat dan dipedomani bahwa Nabi Besar Muhammad SAW telah membuat definisi seorang dikatakan Muslim yang didasarkan atas amal seseorang dan bukan atas niat atau pikiran yang ada dalam benaknya. Misalnya, “Siapa saja yang shalat sebagaimana shalat kami, menghadap kepada kiblat kami dan memakan sesembelihan kurban kami, maka itu petunjuk bagimu (bahwa ia adalah) seorang muslim. Ia menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, janganlah kamu merusak tentang tanggungan Allah itu.” (Bukhari dan An Nasaai dan Kanzul Umal juz 1/398).
Dengan demikian Ahmadiyah sama sekali tidak termasuk kedalam aliran sesat. (Jakarta, 8 November 2007, P.B. Jemaat Ahmadiyah Indonesia) []
Demikian tulisan ini kiranya bisa menyingkap kekaburan tentang Ahmadiyah.